“you have to move on..”
sebuah perjalanan untuk selamanya
eh, persis banget -__-“. ini teh @ragigigig :)
kata-kata yang pernah meluncur dari mulut seorang sahabat kini bergaung liar di kepala saya dan memaksa saya untuk menghadirkan kembali perasaan-perasaan dan pemikiran pemikiran pada percakapan hari itu.
Saya ingat, tetiba saya kehilangan kemampuan untuk menyesuaikan diri saya dengan saran sahabat saya yang baik. Tetiba saya dibuat bingung sendiri dengan kata-kata move on. Saya mempertanyakan kembali ke dalam hati definisi move on. Dan tetiba saya merasa telah melangkah begitu jauhnya ketika saya temui diri ini sudah tidak serasi lagi dengan saran yang lazim saya berikan kepada sahabat-sahabat saya yang baru dilanda patah hati. To move on.
Apa itu move on? Move on yang dulu pernah saya pahami sebagai suatu tindakan melepaskan diri dari jiwa yang dicintai namun sudah tak bisa lagi dimiliki. Sebuah perilaku hidup untuk berhenti melihat ke belakang dan melangkah ke depan. Sebuah olahraga hati untuk melupakan, atau memaafkan, kalau kau punya lapangan hati yang luas untuk itu. Sebuah kata kerja.
Sebuah kerja hati dan badan yang pada akhirnya kau harapkan bisa menghalau asap-asap dari dupa cintamu yang kau bakar sendiri agar kau bisa melihat jelas, ketika ada pintu lain yang terbuka dan ingin memasuki hatimu. Pekerjaan membuka hatimu bagi jiwa yang lain dan memberi kesempatan bagi jiwamu sendiri untuk bisa mereguk manis madu kehidupan lagi. Mencintai lagi jika boleh saya garis bawahi.
Saya diam lama mencari-cari sisa kepahaman saya akan kata tersebut. Saya terhenyak karena tidak ada yang tersisa. Saya tak lagi di dunia yang dulu saya pijak. Saya putar otak saya sedemikian kerasnya untuk dapat menghadirkan jawaban yang dapat diterima frekuensi dunia sahabat saya.
“move on kemana? dan buat apa lagi?”
“ke depan, agar kamu bisa membuka hatimu pada yang lain..”
Tepat. Saya sudah berada di dunia yang berbeda dengan sahabat saya ini, dunia saya yang dahulu. Dan saya sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ada hal-hal yang mungkin hanya hati saya yang mengerti.
Cinta saya yang kemarin adalah cinta saya yang terakhir pada dunia. Cinta yang menjadi titik tolak perjalanan hidup saya untuk selamanya. Kegagalannya tak pernah saya sesali, karena itulah kemudian yang membuka jalan saya menemui kebahagiaan hakiki. Kini saya sedang mempuasai habis-habisan nafsu saya akan keberduaan dengan selainNya. Sampai tiba saatnya jiwa ini bertemu dengan kesungguhan satu jiwa yang menginginkan keberduaan di dalamNya dan karenaNya.
Tak ada lagi pematian sebuah hati agar jiwa ini bisa memulai kehidupan baru dan menyirami kehidupan jiwa lainnya. Karena yang saya tahu, mati atau hidupnya sebuah hati tak pernah ada dalam kuasa dan kemampuan manusia. Semua itu mutlak kehendakNya. Jadi, kau tak perlu mati-matian mencoba mematikannya. Hanya menciptakan kelelahan saja. Saya pernah melalui episode ini, sehingga saya paham. Saya merasa tak perlu lagi ‘maju ke depan’ demi cinta. Nanti juga dia datang sendiri menghampiri apabila sudah saatnya.
Dunia buat saya sudah cukup. Apa lagi yang saya cari ketika semuanya sudah pernah saya rasakan? Dunia yang menolong saya mendapatkan penghargaan manusia yang tak berarti. Dunia yang menjerumuskan saya dalam kenikmatan sekejap. Di semangatnya siang. Di gemerlapnya malam. Yang manis yang sampai membuat gigi ngilu. Atau yang pahit bak memakan mengkudu busuk. Masa muda. Gelak canda sampai di puncak tawa yang membuat jantung beberapa detik berhenti. Air mata yang sampai mengaburkan pandangan dan melumpuhkan persendian. Cinta. Dari yang membuat saya muntah kelabang sampai yang membuat saya muntah pelangi. Jiwa saya sudah kenyang diberi makan dunia.
Kini biarkan saya bermujahadah untuk perlahan belajar mengambil dunia sekedarnya saja dan berendah hati dalam cinta. Karena ada jiwa lain yang harus saya kenyangi, yang lebih sejati. Dan saya telah memahami bahwa dunia bukanlah makanannya. Jiwa yang fakir yang sebenarnya selalu minta diberi porsi, hanya saja saya terlalu sibuk memuaskan duniawi. Jiwa yang pernah mengadakan perjanjian dengan Ilahi. Jiwa yang akan kembali dimintai pertanggungjawaban atas hidup yang telah diberi. Jiwa yang akan kembali menemui Sang Khalik. Ruh saya sendiri. Yang akan saya beri makan dengan penghambaan kepada Sang Kekasih dan persaudaraan kepada jiwa lain. Berupa kebaikan diiringi cinta yang tulus. Yang saya butuhkan untuk dunia sebagai tempat kehidupan saya, dan yang saya butuhkan untuk akhirat sebagai tempat kembali saya.
“Saya rasa saya sudah tak cocok lagi dengan kata move on yang kamu maksud, karena saya sudah selesai dengan dunia itu.. dan cinta, biarlah dia menemukan jalannya sendiri..”
PAAS BANGEEEEEETTTT… :’)
